I AM
27 Oktober 1996, aku dilahirkan dari
seorang ibu yang bernama Santi, bukan di rumah bersalin, hanya di rumah nenek
di sebuah desa terpencil di pedalaman Bulukumba Sulawesi selatan, dibantu bidan
desa yang katanya terus mengomeli nenekku karna membiarkan seorang anak yang
usianya baru beranjak enam belas tahun tapi harus melewati persalinan, kata
nenekku, hari itu adalah hari Ahad yang sangat berat untuk ibuku karna harus
berjuang mengeluarkan bayi dari tubuh kecilnya untuk pertama kalinya.
Sepekan kemudian, aku yang masih
berbentuk bayi diberi nama Hasnita, kata “Has”nya diambil dari nama Ayahku
Hasbullah dan “Nita” karna ibuku suka panggilan itu.
Bertepatan dengan hari itu bayi lain
terlahir di desa kami yang sepekan kemudian diberi nama persis seperti namaku
Hasnita, dan karna ibuku tidak suka membayangkan teman bermain anaknya memiliki
nama lengkap yang sama dengan anaknya maka digantilah namaku dari Hasnita
menjadi Normayunita, sepertinya ibuku benar-benar suka kata “Nita” dan tetap mempertahankannya^^.
Aku tumbuh besar di desa sebagaimana
teman-teman desaku yang lain, ayahku seorang petani sebagaimana ayah
teman-teman desaku yang lain, dan ibuku ibu rumah tangga sebagaimana ibu
teman-teman desaku yang lain.
Banyak hal-hal tak terlupakan di masa
kecilku tapi salah satu yang ingin kubagi adalah kenangan tentang namaku,
guru-guru SD ku sering memanggilku Artis karna katanya ada artis penyanyi di tahun
70-an yang bernama Normayunita dan kebetulan memang saat itu aku sering ngartis
di kelas karna suaraku lumayan bagus untuk bernyanyi :D
Aku benar-benar suka namaku dan
menikmati julukan artisku, aku bersyukur ibuku mengganti namaku menjadi
Normayunita, sampai kemudian kelas 6 SD ada drama di tv lokal yang sedang
marak-maraknya saat itu, berjudul Cinderella yang diperankan oleh mbak Cinta Laura, dalam
drama serial itu ada tokoh antagonis yang bernama Norma, dan mulailah di
sekolah teman-teman meledek namaku dan menyamakannya dengan karakter penjahat
dalam drama paling dicintai saat itu, dan percaya atau tidak, dikelasku ada
seorang teman yang bernama Cinderella, dia teman sebangkuku yang biasa
dipanggil Cende dan kami sangat akrab, maka jadilah drama mengejek-ejek nama
ini berlanjut hingga kemudian aku akhirnya menyelesaikan masa SD dalam keadaan
tidak suka pada namaku.
Tapi itu tidak cukup sampai disitu,
karna ketika kemudian aku memasuki dunia pondok di Darul istiqamah puce’e,
Sinjai selatan ,ada ibu-ibu warga pesantren yang bernama ibu Norma dan dia menjual
bakwan di sekitar asrama putra, dan jelas ini menjadi bahan ledekan untukku,
dan masa-masa MTs*ku benar-benar terisi
julukan “Pang* Norma penjual Bakwan” dari para ikhwan.
Aku tidak menyesali ibu penjual bakwan
itu, aku hanya semakin tidak suka pada namaku, dan malu mengakui kalau Norma
adalah bagian dari nama lengkapku, julukan penjual bakwan itu benar-benar
berhasil melekat sampai akhir masa MTs ku, dan tetap seperti itu hingga
memasuki masa-masa MA* hanya saja sedikit bergeser makna karna saat itu kelas 1
MA adalah kelas yang wajib menambah mata pelajaran Sosiologi dan ada Bab
Norma-Norma kehidupan dimata pelajaran ini yang mau tak mau telingaku harus
tebal mendengar celetukan “pang Norma” dari ikhwan-ikhwan dibalik tabir ketika
mata pelajaran ini berlangsung.
Hingga akhirnya masa Aliyah berakhir aku
hanya semakin malu menyertakan kata Norma disetiap perkenalan namaku, dan itu
berlanjut tapi sampai pada tahun 2015, tahun itu aku menghafal Al-qur’an di
Bekasi dengan program penerapan ilmu STIFiN*, direcoki selama 10 bulan seputar
kecerdasan diri, aku mendapati banyak hal-hal keren dalam diriku yang bisa
kukembangkan dengan baik, dan kecerdasan otak yang diajarkan saat itu benar-benar membuatku melihat diriku dan
segala yang mengikuti adalah kebetulan-kebetulan berharga dari tuhan yang harus
ku ikhlaskan dan ku cintai..
Dari situ hingga saat ini aku bekerja
sebagai bagian kedisiplinan di pondok pesantren islam internasional Al-andalus
putri di Bogor Jawa Barat, aku tak lagi merasa malu menyebut “Norma” sebagai
awalan nama lengkapku, aku bahkan kembali mencintai kata itu, Normayunita.
Salam dariku Normayunita
Catatan kaki :
*Pang : plesetan dari kata puang/tuan,
kata yang dipakai untuk menghormati yang lebih tua di sulawesi selatan
khususnya suku bugis.
*MTs : Madrasah Tsanawiyah setara dengan
SMP
*MA : Madrasah Aliyah setara dengan SMA
*STIFIn : singkatan dari mesin
kecerdasan Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Insting.
Komentar
Posting Komentar