Kaaffah Or Never

"Berfikir untuk bisa menjadi sholih dan tak apa sekali sekali bermaksiat adalah contoh nyata dari kebodohan" .

Ia mengira ketika sholat 5 waktunya tertunaikan, sholat sunnah dhuhanya ia wajibkan, bahkan sholat malamnya ia terapkan lantas tak apa sedikit ada selingan di tengah-tengahnya.

Ia berdoa di malam hari,
 “Allah.. genggam hatiku, hatiku hanya untukmu, bantu aku tidak goyah, kau tau aku lebih mencintaimu."
Hari harinya pun terasa membahagiakan baginya, ia memetakan banyak waktu disiang dan malamnya, dia menyusun rencana harian sedemikian rupa, ia membagi porsi ibadahnya lebih banyak, itu yang utama katanya, jadi waktu dengar musik dan nontonya hanya benar benar di beri waktu seujung kuku.

“aku mendengar sedikit musik, insyaAllah Allah tau hatiku lebih berpihak kemana.” Katanya, dan ketika nonton pun ia berkeyakinan seperti itu, ia lupa bahwa Allah adalah dzat pencemburu, sangat pencemburu.

Waktu semakin berlalu sedang ia meremehkan hal kecil dari sebuah maksiat.

hingga suatu hari, ia mendapati hatinya terasa gersang, ia tertawa tapi tawanya terdengar seperti pantulan gema yang berdecit, ia bersedih tapi bingung penyebabnya.

 Ia galau…

lalu suatu malam, Allah dengan cintanya memberinya sedikit kecupan melalui mimpi buruk yang memaksanya tak lagi bisa memejamkan mata, ia menatap dinding kamarnya, memperhatikan dalam gelap, matanya mengingat rutinitas itu, beberapa minggu yang lalu?

Berapa bulan yang lalu?

 Ia lupa.. 

tapi ia ingat telah lama tak bangun di malam hari, dan saldo sunnah sunnahnya yang lain mungkin sudah lama habis untuk menutupi kesalahan-kesalahan sholat wajibnya, karna telah lama sholat wajibnya hanya rutinitas sembah harian, tak ada feel.

Perlahan ia bangkit mengambil wudhu, ia ingin sholat meski 2 rakaat saja, ketika ia takbir memulai sholat dadanya berderu, bacaan sholatnya mulai tertatih dan air matanyapun tumpah, merembes mengundang cairan hidungnya.

“Allah.. hatiku sakit, Allah.. aku merindukan ini” bisiknya sambil menekan dadanya, ada nyeri yang bertalu talu didalam jiwanya, hatinya kebas, telah begitu lama ia menghalau dan menipu diri.

Ia menyadari satu hal, ia salah karna meremehkan dosa ringan, ia sadar tak menjamin bisa memilah milah syubhat, ia sadar tak seharusnya ia membagi hati, bahwa seharusnya ia kaaffah dalam diin.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Pada akhirnya kau harus memilih, karna meski diukur kecil, dosa tetaplah maksiat.
Wallahu A'lam.


Kota hujan, Bogor 17 juli 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Elu dan Gue harus nulis buku

I AM

Memantapkan Ibadah Dengan Ilmu