Memoar Cahaya *Short story

left-right
Me-Zein

_kemarin kita menyulam mimpi yang sama, melukis kupu-kupu indah di kanvas pelangi.Bergelayut riang membisikkan harapan , bersamamu mungkin aku pernah terluka, menemaniku pun kau pernah tersakiti.Tapi satu bagian indah yang akan selalu kukenang dalam ingatan, bahwa hadirmu memberi arti disini_(Memoar Cahaya. @zzhzein)

Pertemuan pertama tak selalu memberi kesan yang manis dalam pandangan pertama.
Well .. itu yang kurasakan saat bertemu makhluk ngeselin yang satu ini, setidaknya itu yang aku rasakan 7 tahun yang lalu, penghujung tahun 2011 saat kakiku menapak pertama kali di pondok yang mengantarku melalui masa putih abu-abu.

Tatapan mata yang acuh, suara yang melengking teguh dan kerutan yang tak lekang hilang menjadi pemandangan pertama yang kutemui, luntur sudah semangatku berkenalan melihat tatapan gondok dan malasnya.

Tapi akhirnya hingga di ujung akhir membersamai kami, dia adalah gadis yang paling lama menemani perjalananku, skenario tuhan telah mengukir namanya diepisode-episode awalku menjalani masa remaja.

Melalui gadis ini aku akhirnya tau, persepsi kesan pertama tak mutlak selamanya sesuai meski tetap ia menjadi hal yang susah dilupakan.

Diluaran orang mungkin akan memandangnya sebagai gadis tipe pemberontak, gadis dengan emosi labil yang akan menggelegar saat marah, mencak-mencak meladeni adu duel jika tersinggung (haha).

Namun bersamanya selama 5 tahun lebih lumutan di pondok, terpilih ke rumah Qur’an di Bekasi dan akhirnya menjalani hari dengan anak-anak Qur’an di Makassar membuatku mengenalnya lebih dalam.

Gadis pemarah ini kelak kutahu memiliki hati yang tulus, terlalu rapuh untuk dipatahkan, sebab jika dia telah menaruh hati pada sesuatu ia akan memagarnya dengan setia.
Pembawaan sikapnya yang cenderung menguasai adalah terjemah dari sikap ke hatian-hatiannya terhadap sekitar.

Aku tahu ada banyak luka di hatinya, luka karna cuap orang-orang sekitar yang melabelinya dengan kata-kata ‘gadis nakal, jahat, bengis, tidak berperikemanusiaan’ kata-kata yang harus ditelan mentah dari orang-orang yang hanya melihatnya sedetik, mendengar kisahnya dari kabar tak jelas lalu menyimpulkan memberi komentar seenak mereka.

Aku menemui kisah yang berbeda saat bersamanya, saat orang-orang membisikkan namanya sebagai santriwati dengan segudang dosa pelanggaran tata tertib, aku melihatnya sebagai sosok yang tak gentar bereksplorasi, terlalu berani menantang diri dan terlalu percaya dengan jiwanya meski itu terkadang terdengar naif.

Ah.. berkatnya aku pernah menjelajahi hutan-hutan di lereng gunung yang tak terjamah demi mencari air, naik turun gunung menjelajahi sungai demi air wudhu dan membersihkan diri menyambut sholat jum’at , meski akhirnya tak ada satu rakaatpun yang kutemui karna jama’ah telah bubar saat aku kembali dari petualangan lengkap dengan pasukan beserta ember-embernya.

Dengannya pula aku pernah begadang hingga mendekati fajar, menungguinya berduel dengan kelelawar di atas pohon berebut buah mangga, setelah mengidam buah mangga yang tak kunjung-kunjung jatuh dari pohonnya meski sudah banyak batu dan kayu yang melayang mematahkan dahannnya.

Dan eksekusi itu jatuh tepat ditengah malam, saat yang terdengar hanya nyanyian jangkrik dan semilir angin gunung yang menggigit, musyrifah telah pulas tertidur dan tak ada lagi mata yang terjaga, dia bertindak sebagai komandan sedang aku dan teman-teman yang kelak kami sebut pasukan ‘khodijah khodim’ jadi seksi penyemangat yang menunggu buah mangga jatuh dan mengamankannya secepat kilat meski kerap tubuh dan kepala ditimpuk buah segede batu berkali-kali (namanya juga perjuangan sist :D)

Darinya aku tahu bahwa tak hanya gadis dengan aura pemarah yang menyelimuti, dia juga gadis yang rela berkorban dan turun langsung untuk tekad yang telah ia toreh. Aku lebih suka menyebutnya dengan kata tangguh.

Pun aku pernah menyaksikannya membuka lapak bisnis di pondok , tak gengsi dengan pekerjaannya, meski yang didagangkan hanya bakwan, hingga kadang dia melabeli namanya “cahaya bingka’ (bakwan)” dengan cengengesan, pelesetan dari arti namanya katanya, padahal dia sendiri bingung arti namanya apa ๐Ÿ˜‚

Meski akhirnya harus gulung tikar dan berhenti beroperasi setelah kacaunya sistem ekonomi dibawah komandonya (haha, aslinya aku lupa penyebab matinya bisnis dia yang satu ini). Berhentinya unit kecil usaha inipun kemudian berdampak pada kami yang gak kebagian lagi jatah makan bakwan gratis (oke fine ๐Ÿ˜).

Kisah kami berlanjut, ada pentas seni dakwah syahriah yang tak terlupakan dengan perform dan tampilan-tampilannya yang selalu punya kesan wow dihati kami, dimarahi ibu mudir (ini mah cemilan sehari-hari๐Ÿ˜), berantem dengan musyrifah gegara ketahuan nonton drakor modal laptop kantor (meski awalnya izin) yang berakhir kami di hukum oleh mudir langsung, bolak balik jalan bebek hingga hampir rontok rasanya.

Patungan beli majalah super junior pake maksa sedekah๐Ÿ˜†

Ahh.. berjuta kisah yang tak mampu ku urai dengan pena disini (maybe I’ll write it someday).

Banyak hal yang kusyukuri, kukenang dalam memori indah perjalananku melewati masa putih abu-abu bersamanya.

Berselang berakhirnya masa kadaluarsa di pondok, aku akhirnya terdampar ke Bekasi bersama dia (lagi), setelah seleksi ketat kami dinyatakan lulus.

Sampai disini orang-orang mulai melihat prospek masa depan yang cerah untuk temanku ini (klo aku sih emang udah cerah dari sononya:D).

Gila, dari sibiang kena hukuman dan langganan gosip terupdate (udah, hiperbol lagi) akhirnya kepilih takdir masuk rumah Qur’an buat jadi hafidzah. masyaAllah...

Menenun kisah berbeda , memulai menghafal kalam ilahi, memoles niat untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi dan menyulam cita menjadi keluarga Allah bersama orang-orang khususnya menjaga ayat-ayat suci, berdarah mengejar target (hiperbol :D), bangun malam demi menuntaskan target agar terhindar dari kata eliminasi (program hafalannya pake sistem eliminasi bagi santri yang tidak mencapai target) , hingga akhirnya selesai di bulan keenam. Alhamdulillah..

Finally, waktu terus bergulir, sekembali dari rumah Qur’an di Bekasi, kami kembali bertemu di RQ Ummul Qur’an di Makassar, jatuh bangun lagi memulai sosialisasi dengan sekitar, dan memutuskan mengambil jatah 6 bulan untuk mengajar, kami berfikir untuk berhenti setelah merasa tak ada peningkatan hafalan kami di tempat itu.

Disini aku mengingat ia pernah berkata,

  “Aku pernah baca buku, katanya kalau seorang teman sudah saling memahami, itu artinya dia akan berpisah , Zein(dia memanggilku dengan nama itu), mungkin kita belum betul-betul saling memahami makanya kita belum berpisah.”

Ahh.. makhluk ngeselin yang lemarinya banyakan buku dan makanan ketimbang pakaian ini membuatku berpikir, merenungi kata-katanya. Satu kesimpulan yang kemudian ku ucap dalam hatiku bahwa :

  “sepertinya takdir yang membawaku untuk lebih lama bersamamu Nit, sekedar untuk membuatku belajar, belajar banyak dari sikapmu, belajar lebih melalui dirimu.”

Di bulan bulan penerimaan pendaftaran SBMPTN, kami juga memutuskan untuk mendaftar ujian masuk PTN, cita-cita kuliah memang telah menjadi prioritas sebelum aku masuk dunia Al-qur’an begitupun dia, mengingat kami telah menganggurkan ijazah selama 2 tahun dan niat untuk masuk dunia kampus sudah menggebu, jadilah kami mendaftar kuliah bermodal nekat, boro-boro bimbel, niat buka buku saja masih kalah sama nonton drakor (jangan ditiru guys๐Ÿ˜) tapi meski begitu bismillah kami jalan.

Dan saat pengumuman keluar, hasilnya sudah dipastikan KAMI NGGAK LULUS saudara ๐Ÿ˜†. Meski tahu hasilnya begini, dia masih berceloteh via telpon padaku.

  “sebenarnya aku tahu hasilnya bakal seperti ini, tapi kok tetap terasa sakit ya?, kalau seperti ini, harusnya aku milih jurusan yang lebih baik seperti kedokteran UGM dan bla bla, biar kedengaran lebih keren.”

Seperti itulah saudara, ditengah kekecewaannya dia tetap punya niat mengenang gagalnya dengan sesuatu yang lebih keren, meski tetap tidak ada yang berubah .

Lalu sekali lagi kami mencoba peruntungan untuk masuk UIN, sebagai opsi terakhir.

Berbekal pendaftaran UM-PTKIN kami kembali mencoba berusaha menjadi civitas akademik yang mewakili kaum intelektual, meski awalnya tak ada niat sama sekali untuk masuk UIN, karena mimpi sesungguhnya kami adalah bereksplorasi ke luar negri di kampus-kampus keren seperti yang kami baca, lihat dan dengar di media sosial dan media cetak, tapi ya sudahlah daripada tidak sama sekali.

Payahnya, ujian masuk ini digelar di bulan ramadhan, saat stamina lagi payah dan matahari bersinar terik membakar.

Bermodal numpang dan merepotkan di kost teman sema’had di daerah Makassar. Alhamdulillah..

Banyak hal yang kami lewati bersama hingga akhirnya terlalui sudah ujian penerimaan dan puasa tetap sempurna kami tunaikan.

Pengumuman kelulusan beberapa minggu kemudian, dan Alhamdulillah kami lulus.

Tapi justru disinilah awal perpisahan kami. Aku memutuskan untuk mengambil jurusan yang telah kupilih dan melanjut aktivitas menjadi mahasiswi ekonomi, sedang dia meski telah diterima di fakultas favoritnya dan mengurus berkas keperluan masuk, namun akhirnya urung melanjutkan langkah memasuki dunia kampus. Dunia Al-qur’an lebih dulu menjadi suratan takdirnya, dan berselang beberapa waktu dia akhirnya meninggalkan sulawesi, melanjut langkah di kota hujan Bogor, menjadi Muhaffidzah disana, jalan yang selalu manis untuk ditapaki.

Dan disinilah kisah kebersamaan kami selesai, selesai dan memulai tapak yang berbeda, di atmosfer yang berbeda.  Aku berkutat dengan ilmu bisnis dan ekonomi, lengkap dengan cerita dunia kampus, tugas-tugas dan organisasi-organisasi kemahasiswaan, bertemu kawan baru, menjalin tarbiyah, memantik semangat baru dan berjuang menjaga keistiqamahan di dunia yang juga asing kutapaki dan semakin beragam karakter dan watak yang kutemui.

Diapun sama, menapaki hari dengan nyanyian Al-qur’an dari surau, memantau santri dan kembali berkutat dengan hafalan Al-qur’an.

Dijalan yang berbeda, kita tegak bersama melagukan suara mimpi.

Bisa saja mimiku dan mimpimu tak lagi sama, namun kita tetap terikat payung ukhuwah dan berikrar berjalan dengan payung Al-qur’an.

Ah.. berpisah, itu berarti aku tak lagi mendengarnya bertutur mengenai prahara cintanya (wkwk), tidak lagi melihatnya nangis kejer dan tertawa ngakak sambil guling-guling nonton drama korea. Tidak lagi bisa baca buku-buku novelnya yang tebalnya cocok nimpuk guk-guk (maybe,bisa kupinjam suatu saat).

gak bisa lagi menikmati masakan olahan tangannya yang oke punya (saranku sih kamu baiknya jadi koki   aja๐Ÿ‘), apalah aku yang sampai sekarang belum jago masak.

 Atau gak bisa lagi dengar langsung suaranya yang dia klaim sebagai suara emas ๐Ÿ˜†.

Ada kalanya aku kesal dan sebal sama dia, ada kalanya aku pengen nimpuk dia pake bantal, tas atau sepatu kalau lagi ngeselin. Ada saatnya juga aku marah, sedih dan kecewa.

Pun tentu dia pernah kesal, marah, sedih, sebel, dan mungkin pengen jedotin aku ke tembok tapi selalu dia simpan.

Ahh.. untuk episode-episode fantastis selama ini, terimakasih banyak dah, bersama mungkin pernah menyakiti namun ia memberi arti.


"Hei, kamu! Orang-orang mungkin punya pendapat sendiri tentang kamu, tapi bagiku kamu adalah orang baik, yang tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain didepan orang banyak. Tidak perlu menjadi berputar-putar demi terlihat baik didepan orang lain, selama itu baik bagimu, tak menodai agama dan tak menyakiti sesama, kuharap itu terus mekar dihatimu, maka tetaplah jadi dirimu, tak perlu pikirkan kata-kata orang lain yang hanya akan menyakitimu hanya karena mereka tidak mengenalmu".
Kadar kehidupan ini tidak diukur dari kata-kata manusia, tapi diukur dari sejauh mana kita terus melaju untuk mencari ridhoNya.

Oh ya, perkenalkan namanya Normayunita, dulu dia senang kalau dipanggil Morgan, tapi sudahlah, panggil saja Yunita

Peace.

With love Azizah zein

Untuk temannya Normayunita.

Penulis Asli : Nur Azizah Z.

Penyunting : Normayunita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaaffah Or Never

Memantapkan Ibadah Dengan Ilmu

Pencari khusyuk